
“Dari abu engkau akan kembali menjadi abu…”
Biasanya cuma dioles di dahi. Kali ini.. pyurrrr.. ubun-ubun saya yang ditaburi abu. Rangkaian kata setahun sekali itu membawa saya pada permenungan tentang rapuhnya diri.
Hidup sekian tahun telah saya lakoni… dan entah masih berapa tahun lagi… untaian pengalaman didapati… tak tertinggal juga sobat, rekanan, kawan, atau famili yang menemani… Tapi toh pada akhirnya… ya pada saatnya nanti mesti saya tinggalkan semua ini. Soal kapan… ah biarlah itu menjadi urusan dan hak Sang Ilahi. Yang jelas… batas hari, kematian itu pasti!!!
Bukan hendak menakuti-nakuti diri… hari gini kok bicara soal mati.. Tapi saya cuma mau lebih mengerti dan memaknai hari-hari yang terus berganti. Hari yang sampai saat ini terus Dia beri… tanpa sepeser pun saya harus mengganti… Makanya… rasanya sayang kalau sekedar dilewati dan dijalani.
Berpikir tentang batas hari, ternyata membuat saya mawas diri. Bukan untuk ditakuti tapi justru untuk bisa memilih yang lebih berarti. Untuk mampu menjejak dengan pasti di tengah serbuan pilihan yang ditawarkan hari. Sampai saatnya nanti buat pertanggungjawaban diri…
Duduk dan refleksi, lalu menulis buat berbagi atas apa yang saya alami. Itulah salah satu cara saya menegaskan arti & memaknai rangkaian pengalaman tiap hari. Syukur-syukur ada yang menanggapi buat saling mengisi dan melengkapi nuansa hari. Makanya.. setelah sesaat lamanya berhenti, kuputuskan untuk menulis lagi.
Bukankah setiap pengalaman bisa menjadi cermin diri? Dan hari ini, berpikir tentang batas hari… mengajar saya untuk makin belajar rendah hati… di hadapanNya yang berhati tanpa tepi dan abadi.



