Posted by: Widhi | August 20, 2007

Bersahabat dengan Alam

Langit hari itu tampak cerah dan biru. Kontan ajakan seorang kawan untuk berkeliling naik moge-nya pun saya iya-kan. Rupanya ia tergoda cuaca hangat saat itu untuk sejenak jalan2. Coventry, tempat di mana saya lewatkan musim panas kali ini, menjadi titik awal keberangkatan. Sepanjang siang hingga sore itu roda2 besar motornya membawa kami berkeliling desa2 di paruh selatan Warwickshire.

Jemu akibat hujan dan awan kelabu sepanjang bulan Juli lalu sejenak berlalu. Rangkaian lebih dari 50 hari basah di musim panas yang aneh ini seolah menemukan penawarnya. Hari itu kami boleh bermanja pada sinar matahari , berpayung langit biru , dan bernaung pada awan putih tipisnya. Mata pun puas disuguhi pemandangan padang luas hijau khas peternakan dan daerah pertanian di sepanjang jalan.

Street

“Mau lihat Stratford juga?” spontan tanya teman saya di tengah perjalanan.

Lah.. jelas saja tawarannya saya iyakan. Habis.. kapan lagi saya bisa ke situ. Kesempatan baik tak selalu datang dua kali, bukan. Pemandangan khas pertanian pun berganti saat kami masuki Stratford, kota kecil nan cantik. Turun dari motor, kami berjalan menyusuri taman di bantaran sungai Avon yang jadi ciri khas kota. Benar2 nggak disangka apalagi direncanakan.. sore itu saya bisa singgah sebentar di kota kelahiran pujangga besar ini.

Bukan pula sebuah hiperbola kalau saya tak bisa lagi bercerita lewat kata. :P Apa yang saya lihat di dan dari bantaran sungai sore itu begitu indahnya. Teman saya memilih duduk di pinggir sungai, menikmati buaian sinar surya serta memandangi hilir mudiknya perahu dan angsa. Sementara saya segera saja melampiaskan hobby melukis dengan cahaya. Jadi.. biarlah jepretan amatiran ini saja yang bertutur apa adanya. :) Sekaligus mewakili rasa nggumun dan kagum saya pada keindahan alam serta mereka yang setia merawatnya.

Stratford

Stratford2

Stratford3

Tak dinyana.. hanya 3 hari setelah kunjungan kami hari itu, keindahan yang ada sempat ternoda. Bantaran dan taman2 itu sejenak ikut terendam banjir besar yang melanda sebagian wilayah Inggris. Berita media massa mengatakan, kejadian itu adalah banjir terburuk yang melanda negeri ini dalam dasa warsa terakhir. Beberapa tokoh religius di Inggris sempat pula menyebut peristiwa itu sebagai hukuman atau jawaban dari Yang Kuasa atas beragam persoalan moral aktual . Tentu saja komentar mereka mengundang tanya banyak orang. Rasanya itu sebuah pendapat yang terburu-buru dan tidak relevan. Memang apa kaitan banjir dengan soal “pernikahan” sesama jenis, hak adopsi pasangan sejenis, atau legalisasi aborsi yang memang lagi jadi topik di negeri ini?

Tampaknya hujan berkepanjangan dan banjir besar di Inggris itu bukanlah satu-satunya keanehan alam tahun ini. Suhu dan cuaca di banyak tempat dilaporkan mengalami perubahan juga belakangan ini. Layaknya pribadi, alam bisa amat bersahabat jika diperlakukan dengan akrab dan tahu diri. Sebaliknya, ia bisa juga menjelma menjadi musuh setiap generasi jika hanya “disakiti” dan dieksploitasi. Alih2 menuding Tuhan sebagai biang keladi dan penebar “ancaman”, mungkin satu pertanyaan sederhana bisa diajukan: seberapa bijak dan bertanggungjawabkah penghuni bumi ini bergaul dan bersahabat dengan alam sehingga bumi sungguh bisa menjadi ruang bersama yang nyaman untuk dihuni? Ya.. nyaman ditempati oleh setiap ciptaan: baik sekarang maupun nanti, sepanjang peradaban masih ditoreh di planet bernama bumi ini.

Lhaaa.. adakah yang minat untuk berbagi jawaban atau pencerahan? ;)


Responses

  1. Lihat gambarnya aja kagum, apalagi sambil ber-moge ria dg tiupan angin yang semriwing… :D *ngiri.com*

    Universe is just like living things; born, grow older, in time.. die..

  2. Bagus2 bener potonya…
    Kebayang deh enaknya piknik di sekitar situ, sambil bawa laptop heheheh….

  3. no comment dechhh

  4. jadi pingin… kapan ya bisa kesana? thanks fotonya.


Leave a response

Your response:

Categories