
Where are You Christmas?

Posted in Uncategorized
Candid Camera
Pernah coba googling dengan kata kunci “candid camera video“? Yup.. hasilnya kebanyakan adalah rekaman video lucu, usil, atau ngerjain orang lain. Seingat saya, pelawak Komeng dulu pernah bawain acara “Spontan”. Dalam salah satu segmen acara itu, video2 macam begini memang bisa bikin orang tertawa geli dan geleng kepala.
Apakah candid camera cuma cocok buat video lucu2an dan iseng ngerjain orang? Mungkin iya kalau hanya just for fun. Pengalaman turis Kanada yang sembunyi2 merekam polisi di Bali tempo hari mungkin bisa jadi pelajaran buat kita. Ada sesuatu yang lain yang bisa dibuat dengan candid camera.
Video yang mereka upload lewat Youtube ternyata ampuh juga sebagai media kontrol sosial. Di awal kemunculan video itu di Youtube, pejabat Mabes Polri langsung menyangsikan kebenarannya. Khas arogansi penguasa di Indonesia. Selalu sudah merasa benar sendiri, bahkan sebelum mengecek kejadian sebenarnya. Kemarin muncul berita susulan. Kali ini jalan ceritanya berbeda. Sang Polisi dalam video sudah berhasil dilacak identitasnya. Kabarnya oknum ini langsung dimutasi plus beresiko memperoleh sanksi. Nah lhoo.. Proses penyelidikannya memang belum selesai. Tetapi setidaknya oknum polisi yang murah senyum ini pasti akan mikir dua, tiga, empat, atau bahkan lima kali kalau mau malak lagi..
Di Italia, fungsi kontrol seperti ini dengan cukup leluasa bisa diemban oleh media massa. Salah satu stasiun TV swasta bahkan punya program berita harian khusus untuk menayangkan hasil investigasi para reporternya. Tak jarang mereka pun memakai candid camera. Objeknya bisa macam-macam. Mulai dari kecenderungan warga melanggar aturan lalu-lintas, penipuan agen properti, lotere palsu, berita bohong di media, dokter gadungan, hingga buruknya birokrasi atau pelayanan publik di pelbagai instansi. Sering pula penanggungjawab pelbagai pelayanan publik diminta berjanji. Selang beberapa waktu yang disepakati reporter akan kembali untuk mengecek realisasi janji. Semuanya ditayangkan dengan nada jenaka tanpa mengurangi keseriusan substansi beritanya.
Untuk media massa di Indonesia, hal seperti itu mungkin masih terlalu beresiko. Lha wong acara talkshow Bung Wimar yang nyindir dikit2 aja sejak kapan itu tak lagi bisa dinikmati di layar kaca. Tapi toh tetap ada yang bisa dibuat tanpa mengandalkan langsung media massa. Di tengah kebuntuan arus bawah untuk beraspirasi.. contoh kasus rekaman video di Bali itu tidakkah menjadi sumber inspirasi? Banyak orang sudah mencoba bersuara tentang ketidakberesan birokrasi, pelayanan publik, dan macam2 lain2nya di negeri ini. Dan seperti biasa.. tanggapan yang didapatkan dari pihak berwewenang seringkali terumus dalam kata2 bantahan atau janji yang tak pernah direalisasikan.
Kenapa tidak sekarang kita coba cara lain.. bikin & biasakan rekam beragam ketidakberesan pelayanan publik di negeri ini. Bisa dengan cara terang2an.. bisa pula ala candid camera. Upload dan share-kan ke publik via layanan blog atau video blog. Toh banyak orang sekarang sudah punya sarananya. Ndak usah digicam canggih nan mahal harganya. HP berkamera pun rasanya sudah cukup layak dijadikan senjata. Argumentasi bahasa tulisan dan lisan kadang gampang saja mereka abaikan. Foto pun kadang masih bisa diperdebatkan keasliannya. Lha kalo rekaman video.. meskipun masih bisa saja dianggap manipulasi.. tetap akan lebih sulit dicari argumen bantahannya daripada tulisan atau lisan.
Saya pikir, isi dunia internet di Indonesia ini masih jauh lebih demokratis daripada dunia nyatanya. Sebuah peluang, bukan? Jadi.. kenapa nggak kita sendiri yang mencoba. Mungkin kuncinya.. berani dan cerdik2 aja ngambil gambarnya.. Belum ada UU yang nglarang buat beginian khan di Indonesia?
Posted in Opini



